TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman August 11, 2016 | Kemaleman | Komentar
Kisah PSK Asal Bogor
Tidak semua wanita panggilan asal Bogor yang bekerja di kafe dan tempat karaoke di Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung berstatus single. Sebagian dari mereka adalah janda. Salah satunya Evi.

Evi merupakan janda dua anak. Usianya 32 tahun. Rambutnya panjang, kulitnya sawo matang dengan tinggi badan sekitar 150 cm. Kulitnya berubah jadi sawo matang setelah 6 bulan tinggal di Belitung.

Kondisi Belitung Timur yang dekat pantai tak bersahabat untuk wanita berkulit putih. Cewek Bogor yang rata-rata berkulit putih dan mulus, mengalami perubahan warna kulit setelah berbulan-bulan tinggal di Belitung.

"Air di sini kurang bagus. Mana dekat pantai lagi. Jadinya item gini. Orang China aja item kalau di sini, apalagi kita," ujar Evi saat berbincang dengan pojoksatu.id.

Evi menceritakan kisah hidupnya hingga terjun ke bisnis seperti ini. Evi mengaku pernah bekerja sebagai kasir di salah satu hotel tertua di Kota Bogor. Di tempat itu, dia bertemu seorang pria yang bekerja sebagai staf PPATK.

Evi pacaran dengan pria keturunan Arab tersebut. Tak lama pacaran, keduanya sepakat menikah pada tahun 2004. Setelah menikah, Evi berhenti bekerja sebagai kasir hotel.

Dari pernikahannya dengan pria Arab tersebut, Evi dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Saat ini, anak laki-lakinya duduk di bangku kelas 1 SMP dan anak keduanya kelas 5 SD.Sayangnya, ketika memasuki tahun keenam pernikahannya, suami Evi mengalami musibah kecelakaan hingga dipanggail menghadap Tuhan. Evi pun menyandang status janda.

Tak berselang lama, orang tua Evi juga meninggal dunia. Saat itulah, Evi terpuruk. Di saat dia mengalami musibah seperti itu, Evi tak punya pekerjaan apa-apa. Terlebih kakaknya juga mengalami nasib serupa dengan dirinya.

"Saya punya dua kakak, tapi dua-duanya janda. Jadi, di ruamh itu ada tiga janda," ujar Evi yang mengaku tinggal di Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Kondisi ekonomi membuat Evi terpaksa bekerja di pabrik sepatu di Ciapus. Namun, Evi tak betah. Dia kemudian bekerja sebagai staf di dokter gigi, tapi lagi-lagi tak bertahan lama.

"Akhirnya saya ketemu mami saat mengantar anak ke sekolah. Dia ajak saya ke Belitung," imbuh Evi.

Menurut Evi, dengan bekerja sebagai pelayan kafe nyambi cewek panggilan, dia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah Rp300 ribu sampai Rp1,5 juta per malam.

"Setiap hari Sabtu, saya kirimkan uang ke anak Rp 600-Rp 700 ribu buat biaya sekolahnya. Mereka tinggal di rumah kakak. Kalau tidak kerja kayak gini, mau ambil uang dari mana buat sekolahin anak," tandas Evi.

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment