TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman August 20, 2016 | Kemaleman | Komentar
Pantang Jadi Pengemis, Kemaleman.com
Selagi tubuh ini mampu bergerak dan mampu beraktivitas , lebih baik kita bekerja untuk bisa mencari nafkah di bandingkan menjadi pengemis. Dan kini ada seorang kakek tua yang benar - benar punya tekad bulat untuk tidak menjadi seorang pengemis dengan rela mengengkol sepeda sejauh puluhan kilometer untuk berjualan sabun.

Kakek tua yang di sapa Atmo Tohari ini kondisi tubuhnya sudah tidak selincah dulu. Tubuhnya bungkuk , dia tinggal di Jalan Telaga Warna, RT 6 RW 18 Kampung Nambangan, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kota Magelang.

Dalam keadaan kondisi yang bungkuk itu, Atmo tetap semangat untuk mengais rejeki dengan berjualan sabun. Atmo mengaku jika saat ini dirinya sudah berusia 104 tahun.

Mbah Atmo ini kakek tua yang semangat menjalani hidup dan benar – benar tak ingin menjadi seorang pengemis. Dia lebih memilih mengengkol puluhan kilo meter demi bisa mendapatkan uang.

Mbah Tohari menghabiskan separuh harinya di jalanan, mengayuh sepeda butut bermerk Polygon yang sudah mulai renta untuk menemaninya berjualan kelontong. Saat berjualan sabun , mbah Tohari berbekal tas untuk wadah dagangan berupa tisu, pampers, sabun mandi, shampo, dan juga kebutuhan hidup lainnya, mbah Tohari sanggup berkeliling lebih dari 10 kilometer per hari untuk mencari rezeki.

Menurut mbah Tohari , menjual sabun itu salah satu pekerjaan yang bisa menyambung hidupnya dari pada barpangku tangan meminta belas kasihan orang. Bahkan dia mengaku jika dia tidak bersepeda , badan terasa sakit semua terutama kaki bengkak – bengkak.

"Kalau saya tidak jualan dengan sepeda malah badan sakit semua, kaki bengkak-bengkak. Saya anggap olahraga dan berkegiatan," kata Mbah Tohari.

Untuk menjual barang dagangannya itu, mbah Tohari pun memiliki jadwal khusus yakni setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Hari Senin dan Jumat adalah saatnya libur dan kulakan barang-barang yang harus dijualnya kembali.

Mbah Tohari juga punya rute berjualan dimana setiap :
  1. Selasa, dia berjualan di daerah Bakorwil Kedu Surakarta, hingga ke Pakelan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.
  2. Rabu dia berjualan di wilayah Jurangombo-Karet-Giriloyo-Perumahan Lembah Hijau-Akmil-Perumahan Pancaarga.
  3. Kamis, mbah Tohari berkeliling Seneng-Pakelan-Armada di Kecamatan Mertoyudan hingga Menowo, Kota Magelang.
  4. Sabtunya, dia mengayuh sepedanya hingga Bumi Prayudan, Kecamatan Mertoyudan. Minggunya dia berjualan di Rindam dan Potrobangsan, Kota Magelang.


"Hampir setiap hari saya menempuh jarak lebih dari 10 kilometer. Saya berangkat pukul 05.30 pulang pukul 16.00. Kalau menata barang malam harinya," tutur mbah Tohari , seperti yang dilansir dari Tribunnews.com (5/12).

Mbah Tohari ini pada dasarnya punya keluarga, dia sudah beristri empat dan mengaku memulai kegiatan berjualan keliling sejak tahun 1994. Kala itu, dia tidak menggunakan sepeda untuk sarana berjualan. Namun, dia memikul barang dagangannya dan berkeliling dari kampung ke kampung.

Saat berjualan , banyak pembeli yang merasa iba dengan hidup mbah Tohari ini. Ada beberapa pembeli yang memberikan uang lebih. Namun mbah Tohari selalu menolak. Dia hanya mau menerima uang itu jika seorang dermawan mau mengambil barang dagangannya, meskipun hanya sedikit.

Hal ini juga diakui oleh anaknya Samsudin yang mengatakan jika bapaknya itu tak mau di berikan uang cuma – cuma. Menurut Udin, bapaknya itu berprinsip keras mengenai uang dan usaha. Dia dan beberapa saudaranya sudah sering melarang mbah Tohari untuk berjualan, namun, pria tua itu menolaknya.

"Tak jarang karena bapak tidak mau diberi uang cuma-cuma, banyak tetangga atau orang yang berbohong kalau punya hutang dengan bapak. Padahal, niat mereka mengasih bapak. Malahan, waktu saya itu menyuruh bapak berhenti berjualan dan biar saya gantikan, bapak tidak mau. Dia malah mau memberi modal saya untuk berjualan sendiri dan mencari pelanggan sendiri,” kata Samsudin (35), putra mbah Tohari dari istri keempat, seperti yang dilansir dari Tribunnews.com (5/12).

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment