TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman March 10, 2016 | Kemaleman | Komentar
Sadis ! Anak Kandung Tega Tendang Dan Siram Ayahnya Yang Lumpuh
Tukidi (65), pria lansia ini sungguh bernasib tragis, ia disiksa oleh oleh anak kandungnya sendiri. Tukidi, mengalami kelumpuhan lantaran stroke, dalam kondisi seperti ini, ia dikiurung oleh DA (40), sang anak kandung.

Tukidi merupakan warga Pasar III Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Sumut. Dengan dipapah keluarganya, ia melaporkan ulah anaknya di Polsek Percut Sei Tuan, Jalan Letda Sujono, Medan, Rabu (9/3/2016).

Korban datang dengan naik angkot, saat datang dipapah menuju Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Percut Sei Tuan. Bapak tua ini menangis tersedu saat menceritakan perbuatan DA, anak lelakinya, warga Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan. Tukidi dianiaya anaknya di hadapan istrinya, Rasmi (56).

"Saya dipukul, lalu didorongnya hingga terjatuh. Saya dipasung, dikurung dalam kamar. Saya kena stroke, jadi hanya bisa ngesot. Dari sore hingga jam 10 malam saya baru bisa keluar. Itu pun karena ditolong warga," ungkapnya.

Waktu itu Tukidi dudukdi teras rumah, ia duduk di teras rumahnya, ingin menikmati udara segar. Rasmi, istrinya melihat, kemudian memintanya masuk. Tukidi menolak lantaran masih senang menikmati udara segar, hal ini membuat istrinya berang. Ia diomeli, saat itulah DA yang merupakan guru PNS datang.

DA menyuruh ayahnya masuk ke dalam rumah, namun Tukidi menolak. DA sungguh keji, saat Tukidi menolak, ia masuk ke dalam rumah, mengambail air di kamar mandi, dan menyiramkannya ke ayahnya. Tak hanya itu, DA menendang kursi roda ayahnya hingga orban terjatuh terlentang.

Da merupakan anak kedua dari empat bersaudara, usai menendang ayahnya, ia menyeret paksa sang ayah masuk ke dalam rumah dan mengurungnya di kamar.

"Anakku sukses semua, semua punya mobil sendiri, tapi tega samaku. Aku udah minta tolong sama dia, supaya aku jangan dikurung di kamar kosong yang bukan kamarku, namun dia gak mendengar. Sampai malam aku dikurung. Aku berusaha sambil ngesot untuk membuka pintu itu. Aku baru bisa keluar setelah ditolong warga yang melihat," ujar Tukidi sambil terisak.

Tukidi pun ditolong warga, pria ini sungguh malang, padahal dulunya ia adalah pelatih sepak bola SSB Desa Saintis.

Tukidi kemudian diantarkan ke rumah kerabatnya di Jalan Kali Serayu, Desa Santis.

"Enggak kenal saya siapa yang nolong nak. Habis itu saya minta diantarkan ke tempat saudara. Baru 2 bulan terakhir ini penyakit stroke saya parah. Saya seperti gak dianggap lagi.

Padahal dulu saya terus bekerja untuk membesarkan anak dan keluarga saya. Mulai jadi sopir di KIM Mabar, sampai jadi pelatih bola. Tapi sekarang, begini mereka memperlakukan saya," tambahnya.

Kakak kandung Tukidi, Kliwon (68), warga Desa Manuggal, Kecamatan Medan Deli,merasa prihatin dengan yang dialami korban. Ia sudah lama mendengar, namun tak berani ikut campur demi keutuhan rumah tangga korban.

"Sejak Tukidi kena stroke, keempat anaknya tak manusiawi memperlakukan adik saya ini. Bahkan, kadang adik saya ini kadang tak dikasih makan, malah sering dimarahin karena gak bisa apa-apa," ujarnya.

Meskipunsudah melapor ke kepolisian, namun laporan Tukidi ditolak pihak kepolisian dengan alasan tak memiliki saksi, bahkan tak menemukan bekas luka di tubuh korban untuk divisum.

"Di tolak laporan kami dik. Kata polisinya nggak ada bukti, nggak ada saksi dan harus divisum. Yah jadi kami berunding dululah di rumah, kalau bisa nanti kami ke Polresta Medan aja," sebut Kliwon.

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment