TERBARU

Kemaleman February 16, 2016 | Kemaleman | Komentar
Parah! Ternyata Ada Pria Nikahi Ibu dan Saudara Kandung di Indonesia
Meski pernikahan sedarah diharamkan agama dan dilarang pemerintah, masih ada saja pria yang nikahi ibu dan saudara kandungnya sendiri di Indonesia. Bahkan, seorang ayah juga boleh kawin dengan anak kandungnya.

Budaya pernikahan sedarah ini berlaku di suku Polahi yang berada di pedalaman Gorontalo, tepatnya di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Budaya ini masih berlaku sampai sekarang.

Di suku Polahi, kawin dengan ibu kandung dan adik atau kakak perempuan merupakan hal biasa. Begitu pula dengan ayah yang kawin dengan ibu mertua atau anak perempuannya, juga tak menjadi masalah.

Suku Polahi merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo dengan beberapa kebiasaan yang primitif. Mereka tidak mengenal agama dan pendidikan.

Meski melakukan pernikahan sedarah, mereka tetap hidup berkelompok dan dipimpin kepala suku. Kepala suku inilah yang kehidupan sosial mereka.

Pernikahan di suku Paholi tidak sulit. Kepala suku hanya membawa kedua calon mempelai ke sungai, lalu disiram air dan dibacakan mantra. Setelah itu, mereka sudah sah menjadi suami istri.

“Di sini hanya kami. Jadi kawin saja dengan saudara,” ujar warga suku Polahi, Mama Tanio.

Selain dilarang agama dan pemerintah, pernikahan sedarah juga tidak dibolehkan berdasarkan tinjauan medis. Sebab, pernikahan sedaran bisa menyebabkan cacat dan usia anaknya tidak panjang.

Pasalnya, anak dari hasil pernikahan sedarah akan sulit diobati jika terjadi penyakit dari gen buruk. Karenanya, kawin sedarah atau inses berakibat kematian kelahiran anak sangat tinggi.

Direktur Pusat Genetik Manusia di Perth, Australia, Prof. Alan Bittles mengatakan, kawin sedarah dapat menyebabkan beberapa penyakit pada anak. Diantaranya kebutaan, tuli, penyakit kulit dan penyakit neurodegeneratif yaitu penyakit yang terjadi karena kerusakan sel-sel saraf.

Sementara dr. Boyke menyebutkan, perkawinan sedarah dapat menyebabkan munculnya penyakit talasemia, hermopilia, dan penyakit aneh lainnya.

Uniknya, penyakit aneh ini tidak terjadi di lingkungan suku Polahi. Tak ada warga suku Polahi yang cacat. Selain itu, usia mereka juga tidak singkat. Bahkan, dari segi fisik, tak ada perbedaan antara hasil pernikahan sedarah dengan pernikahan lain pada umumnya.

Tradisi pernikahan sedarah dilakukan suku Polahi untuk mempertahankan keturunan mereka. Kebiasaan ini dilakukan secara turun-temurun sejak sejak nenek moyan mereka masih hidup.

Fakta sejarah menyebutkan bahwa Polahi merupakan suku yang terdiri atas warga Gorontalo yang melarikan diri ke pedalaman hutan saat terjadi penjajahan Belanda. Masyarakat Gorontalo menyebut mereka ‘Polahi’ yang berarti ‘pelarian’. Mereka melarikan diri dari para penjajah Belanda ke dalam hutan.

Kehidupan pedalaman hutan membuat mereka sangat terbelakang. Jika dihitung kurang lebih penduduk Suku Polahi hanya sekitar 500 jiwa saja.

Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo mengidentifikasi masyarakat suku Polahi dengan kelompok 9, kelompok 18, kelompok 21 atau kelompok 70. Masing-masing kelompok dipisah berdasarkan jumlah anggota kelompok dalam satu kampung.

Meskipun sebagian keluarga suku polahi sudah menetap dengan membangun tempat tinggal sendiri, tapi sebagian yang lain masih nomaden atau berpindah-pindah tempat tinggal.

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment