TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman January 27, 2016 | Kemaleman | Komentar
Suami Naik Pesawat ke Jakarta, Istri " Dinaiki " Tetangga Dikamar
Donjuan (namasamaran),34, dari Percut Sei Tuan ini aneh banget. Naik tangga saja takut, tapi naiki bini tetangga malah berani betul. Tapi gara-gara keberaniannya itu dia harus babak belur, karena dihajar para tetangga.

Dalam Ilmu Jiwa ada dikenal istilah Acrophobia, yakni orang yang takut ketinggian. Berdiri di tempat tinggi, dia menjadi singunen takut bila mana jatuh. Maka bagi penderita ini, janganlah jadi pemanjat kelapa, lantaran akan tersiksa karenanya.

Donjuan yang tinggal di Percut Sei Tuan, rupanya juga penderita Acrophobia. Gara-gara penyakit itu, dia tak berani memanjat tangga hanya untuk membetulkan genting bocor di rumahnya. Apa lagi memanjat pohon untuk menguduh mangga atau rambutan, amit-amit deh.

Uniknya, sementara naik tangga saja tak berani, dia justru bercita-cita bisa menaiki bini tetangga, Karin (nama asal comot), 20, yang memang seksi menggiurkan. Dalam benaknya selalu terjadi perang batin. Mana yang lebih penting, antara moral dengan alat vital? Demi moral dan etika bertetangga, dia musti hidup yang lurus-lurus saja. Tapi bila demi alat vital, masak ada tetangga cantik lagi nganggur, kenapa mesti dibiarkan saja?

Sebetulnya Donjuan yang perjaka tua, sudah lama jatuh cinta pada Karin nan seksi menggiurkan itu. Tapi untuk mendeklarasikan cintanya tidaklah berani. Di samping status dirinya yang berpenghasilan tak menentu, Karin sendiri sudah berstatus bini orang. Secara etika, ini kan tidak baik bila memaksakan kehendak, nyosor sembarang tempat. Ungkapan lama mengatakan, kalau mau berak janganlah di kampung sendiri.

Gara-gara pertimbangan moral, Donjuan harus meredam aspirasi alat vital. Awalnya bisa, tapi lama-lama tak mampu juga. Maklumlah, manakala melihat Karin belanja di warung sebelah, ukuran celana mendadak berubah.

Si “Jendul” mendesak-desak, minta aspirasinya ditampung dan disalurkan, tapi Donjuan selalu menolak dengan alasan situasinya tidak mengizinkan.

Karin yang siang malam dikenang Donjuan, sama sekali juga tak mengetahui gejala cinta terpendam sang tetangga, karena si perjaka tua itu masih mampu mengendalikan diri. Jadi sikapnya kepada Donjuan selama ini ya biasa-biasa saja. Padahal bagi pihak terkait macam Donjuan, senyum dan lirikan mata Karin mengandung sejuta makna.

Belum lama ini Donlesi (lagi-lagi disamarkan), 25, suami Karin dapat pekerjaan ke Jakarta, sehingga untuk sementara waktu istri ditinggalkannya. Nah, di sinilah Donjuan merasa bahwa peluangnya telah tiba. Mumpung sedang ada barang nganggur, kenapa tidak dimanfaatkan? Bukankah Komisi III DPR juga selalu menganjurkan, daripada bangun gedung baru, sebaiknya KPK menggunakan gedung pemerintah yang nganggur saja.

Donjuan yang selama ini dengan sengaja selalu membentengi nafsunya atas diri Karin, kini mulai dilepas. Menjelang subuh, di kala Karin di rumah sendirian, dia segera masuk ke kamarnya dan main sergap, hip! Karin mencoba meronta, tapi karena dipaksa dan diancam, akhirnya dengan leluasa Donjuan berhasil melampiaskan gairah dan cintanya yang terpendam selama ini. “Jangan bilang suamimu, jika tak mau celaka,” ancam Donjuan.

Tapi rupanya Karin tidaklah takut. Begitu lelaki tetangga itu keluar kamar, dia langsung berteriak, maling, maling! Tak ayal warga yang siap-siap ke mesjid, ramai-ramai menangkapnya. Tahu bahwa Donjuan habis memperkosa bini orang, langsung digebuki. Dalam kondisi wajah simpang siur barulah perjaka tua itu diserahkan ke polisi.

Muda tak bahagia, jadi perjaka tua banyak bikin dosa, akhirnya masuk penjara, daaaaa… (GunS)

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment