TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman January 26, 2016 | Kemaleman | Komentar
Kisah Nyata Lenyapnya Sebuah Dusun di Dieng yang Mirip Kisah Kota Soddom Nabi Luth
Ribuan tahun yang silam, sering masayarakat atau pembaca mengenal kisah sebuah kota yang dikenal sebagai kota kutukan kaum Nabi Luth AS. Kota tersebut biasa pembaca mengenalnya dengan kota Soddom dan Gommorah.

Kedua kota ini memiliki kekayaan alam yang melimpah dan kemakmuran masayarakatnya. Namun dibalik semua itu hampir semua penduduknya sangat sombong dan jumawa. Mereka setiap hari melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan dan agama, seperti mabuk-mabukan, berzina, berjudi dan seks bebas. Karena hal inilah dua kota ini mendapat adzab ditenggelamkan kedalam bumi oleh Tuhan sang maha pencipta.

Selain dua kota tersebut ternyata ada kisah serupa di Indonesia. Tepatnya di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sebuah Dusun diceritakan hilang ditelan bumi dalam waktu sehari semalam karena diturunkan adzab. Menurut kisah warga setempat, Zaman dahulu ada sebuah dusun yang bernama Dusun yang bernama dusun Legetang. Sebuah dusun yang berdiri di lembah pegunungan Dieng.

Zaman dahulu Warga dusun ini merupakan para petani yang kaya dan makmur. Bahkan karena kemakmuran duniawi ini yang membutakan para penduduk di dusun tersebut. Bukannya bersyukur atas pemberian sang maha pencipta, mereka malah melakukan hal yang dilarang agama. Mirip seperti kisah kota Sodom dan Gommorah kaum Nabi Luth.

Menurut kisah pada suatu malam turun hujan yang lebat yang mengguyur dusun tersebut, dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kegiatan foya-foya, namun tengah malam hujan reda ditengah pesta foya-foya tersebut. Secara tiba-tiba terdengar sebuah suara gemuruh dan ledakan diiringi terbelahnya sebuah gunung (gunung pengamun-ngamun), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng. Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.

Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit.

Ditengah gunung tersebut didaerah Lagetang kini Berdiri sebuah monumen peringatanakan kejadian yang mengerikan tersebut. diengsavanaindonesia.com

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment