TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman October 21, 2015 | Kemaleman | Komentar

Hafizah Cantik Ini Meraih Tiket ke Tanah Suci, Hebat!


Pagi itu, menjelang final Dauky Dream Girls 2015, Prisila Rosa Malinda bangun jauh sebelum ayam berkokok.

Gadis kelahiran Palembang, 11 Juni 1995 itu berangkat dari rumah dengan mengendarai motornya pukul empat dini hari, sendiri.

Dia harus memburu kereta api pertama yang membawa penumpang dari Bogor ke Jakarta.
"Ngeri, takut dibegal. Tapi aku punya Allah yang Maha Pelindung," kenang Sila.

Setengah jam kemudian sesampai di stasiun Bogor, azan Subuh belum berkumandang. Sementara kereta segera harus berangkat.

Sekitar lima menit setelah kereta meninggalkan stasiun, Subuh tiba.
Sila pun menunaikan salat dengan wudhu yang sudah disiapkannya sebelum berangkat tadi.

Dia lewatkan dua rakaat dengan khusyuk di atas gerbong yang masih agak lengang.

Sila memang terbiasa mandiri. Dia berasal dari keluarga sederhana, bahkan sempat terpisah dengan orangtua yang pindah ke Bogor, Jawa Barat.

Saat itu dia harus tinggal bersama kakek dan neneknya di Palembang, Sumatera Selatan.

Sementara orangtua bersama dua adiknya tinggal menumpang bersama saudara.
Sila baru bisa pindah dan berkumpul dengan keluarga saat memasuki kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA).

Mereka pindah ke rumah kontrakan. Baru Mei lalu, mereka mempunyai rumah sendiri di pinggiran kota hujan, di Kelurahan Petir, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Saat Dream.co.id berkunjung ke rumahnya pekan lalu, rumah itu tampak resik dan asri.
Tembok berkelir biru. Dengan akses jalan yang hanya bisa dilalui motor.

Saat ini Sila sambil kuliah, bekerja di salah satu instantasi Pemerintah DKI Jakarta, kantor Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan. Kesehariannya, dia harus bangun pukul empat dini hari. Sambil bersiap berangkat kerja, dia tunaikan salat Subuh.

"Setelah itu aku berangkat naik motor ke stasiun Bogor bersama papa yang kantornya di Kemenpora, Senayan," kata Sila bercerita.

Sila sudah bekerja selama setengah tahun. Dia bertugas di bagian Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Melayani langsung warga yang hendak membuat yang berkaitan dengan kependudukan.



"Saya kerja dari Senin sampai Jumat. Mulai jam 8 pagi sampai 4.30 sore.
 Tapi setiap minggu pertama dihari Jumat ada program khusus, jam kerja sampai jam 10 malam," kata gadis yang sempat bercita-cita menjadi juru masak ini.

Pulang kerja. Sila tak bisa berleha-leha di kamarnya. Ia harus berkutak mengerjakan tugas kuliah. Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Cibubur kuliah dengan sistem online.

Setiap Sabtu, ia baru diwajibkan ke kampus, kuliah tatap muka dari pagi hingga petang.
Jika sudah kelar, lulusan SMA PGRI 4 Bogor itu selalu menyempatkan membaca dan melatih hafalan Al-Quran, sebelum beranjak ke peraduan.

Maklum sejak kecil Sila selalu belajar di sekolah Islam. Satu hal yang mengagumkan, sejak berusia sembilan tahun atau tepatnya kelas empat SD dia sudah hafal 30 Juzz Al-Quran.



Sang bunda, Yurnaningsih, sangat bangga dengan putrinya itu. Di saat anak seumurnya masih bergantung pada orangtua, Sila justru sudah bekerja, membantu keluarga dan membiayai kuliah sendiri.

"Saya makin terharu dan bangga ketika ia menjadi pemenang Dauky Dream Girls 2015. Tidak menyangka.
Alhamdulillah," kata Yurnaningsih tersenyum.

Sila dikenal tipe anak 'rumahan'. Ia lebih suka menghabiskan waktu libur kerja dan kuliah untuk berkumpul bersama keluarga.

Biasanya, saat itu, dia menyalurkan hobi membuat kue dan mengajak main sang adik.
Adapun di mata sahabat, wanita yang memiliki lesung pipi itu adalah sosok yang tekun dan ulet.

"Dari dulu dia termasuk anak pekerja keras karena mempunyai keinginan kuat.
Selalu berusaha mencapai keinginannya itu. Akhirnya jadi juara satu Dream Girls.

Hebat!," komentar Deswita Rahmayanti, sahabat Sila di Palembang yang tengah datang ke Jakarta.
Dengan pencapaian sekarang, Sila tak lantas berpuas diri. Ia masih punya mimpi lain yang ingin diwujudkan.

Salah satunya, membuka usaha cafe dan butik fesyen. "Ini lagi mulai nabung dikit-dikit. Doain ya," ujar dia tersipu malu."Mimpi tidak akan pernah tidur.

And I am Hope. Allah pasti punya skenario terbaik untuk kehidupan kita," itulah kata-kata penyemangat Sila untuk terus mengejar mimpinya.
Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment