TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman September 21, 2015 | Kemaleman | Komentar
Biadab ! Anak Telantarkan Ibunya Yang Sudah Tua Dan Cacat
Semangat hidup Mbah Simpen (80) patut diacungi jempol. Meski hidup sebatangkara, perempuan renta itu tetap bersemangat menghabiskan hari tuanya.

Setiap hari Mbah Simpen juga melakukan aktifitas rutin seperti bersih-bersih gubuknya dan memasak. Dia memasak nasi dan sayur pemberian para tetangga dan donatur.

“Ini tadi baru memasak nasi dan sayur,” ungkap Mbah Simpen dalam bahasa Jawa saat ditemui SURYA.co.id di rumahnya, Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jumat (4/9/2015).

Sebenarnya Mbah Simpen punya dua orang anak dari hasil pernikahan dengan suaminya. Satu anaknya sudah meninggal dunia, dan satu anaknya yang lain kabarnya kini bekerja di Kalimantan.

Namun yang sangat disayangkan sudah sekitar 10 tahun ini sang anak tak pernah lagi datang menjenguk orangtuanya.

“Sudah lebih dari 10 tahun anaknya tak pernah pulang lagi,” ungkap Sriyanah (50) tetangga Mbah Simpen.

Mbah Simpen kini praktis hidup menyendiri setelah ditinggal menikah lagi suaminya 15 tahun silam. Namun tak lama setelah suaminya menikah lagi kemudian meninggal.

Karena sudah renta, tidak memungkinkan lagi Mbah Simpen bekerja. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan donatur.

Para tetangga juga sudah maklum dengan kondisinya. Sehingga setiap hari ada saja yang memberikan bantuan beras dan bahan makanan.

Pemerintah desa juga rutin membantu beras miskin. Namun Mbah Simpen tidak terdaftar sebagai peserta Jamkesmas, sehingga tidak bisa berobat gratis di puskesmas dan rumah sakit.

Padahal salah satu telapak kaki Mbah Simpen mengalami infeksi. Sejak sakit infeksi di telapak kaki kiri, tidak pernah diperiksakan ke dokter.

Jika badannya terasa sakit hanya minta diobati dengan serbuk obat puyer sakit kepala. Anehnya obat itu ternyata cukup manjur sehingga menghilangkan rasa sakit.

“Kalau badannya terasa sakit hanya minta dibelikan obat puyer,” tambah Sriyanah.

Namun tetap saja infeksi di telapak kaki itu telah menggerogoti jari jemari kakinya. Luka di telapak kaki itu hanya dibungkus dengan kain kusam seadanya.

Rumah gubuk yang ditempati Mbah Simpen ukuran 2 x 3 meter juga jauh dari layak dan manusiawi. Karena gubuk dengan dinding sesek bambu itu tanpa plester.

Lokasi rumah gubuk derita itu juga “magersari” atau menumpang di lahan milik tetangganya.

Sejak kakinya mengalami infeksi, Mbah Simpen tidak dapat lagi berjalan. Untuk beralih tempat dilakukan dengan cara ngesot.

Namun perempuan itu tetap berharap diberi kesehatan dan umur yang panjang. “Doakan mbahe sehat ya, mas,” ungkapnya.

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment