TERBARU

PEOPLE ARE...

Kemaleman August 21, 2015 | Kemaleman | Komentar
Andai Hartini Jadi Istri Raffi Ahmad
Menyaksikan reality show yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional akhir pekan lalu tentang proses persalinan istri Raffi Ahmad yang bernama Nagita Slavina, saya jadi teringat dengan sosok Hartini. Kebetulan, perempuan berusia 25 tahun tersebut, 5 hari sebelumnya juga melahirkan anaknya yang ke 4.

Antara Hartini dengan Nagita Slavina , sebenarnya mempunyai kodrat hidup yang nyaris sama. Keduanya mempunyai selisih usia yang tak jauh berbeda, sama- sama menjadi seorang ibu dan hanya selang 5 hari sama- sama menjalani persalinan. Ada pun yang membedakan, adalah takdir. Perbedaannya ibarat bumi dengan langit.

Hartini yang bersuamikan Andi (34) berasal dari kecamatan Juana, kabupaten Pati yang merantau ke kota Salatiga. Keterbatasan ekonomi, membuat keduanya menjalani profesi sebagai pemulung barang bekas dan tinggal di bedeng dekat SPBU Jalan Osamaliki. Mereka sudah dikaruniai tiga orang anak, meski begitu, kemelaratan tak menghalangi Hartini bunting lagi.

Kendati masa kehamilannya sudah memasuki usia 9 bulan, bahkan tinggal menunggu waktu sang jabang bayi mbrojol. Tetapi, Hartini belum pernah sekali pun memeriksakan kehamilannya. Ia cenderung mengabaikan kesehatan calon anaknya tersebut. Saban hari, seperti biasa ia memulung barang- barang bekas di sekitar kota Salatiga. Seragam dinasnya selalu khas, baju atas seadanya, celana panjang dan karung bagor guna membawa hasil memulungnya.

Pagi hari, untuk memulai aktifitas rutinnya, Hartini dan Andi terlebih dulu menyetorkan hasil memulungnya ke lapak yang terletak kurang lebih 1 kilo meter dari bedeng yang ditinggali. Selasa (11/8) seperti biasa, keduanya berangkat menuju lapak penampungan untuk menimbang barang dagangan. Di tengah perjalanan, Hartini merasakan perutnya melilit tak karuan. Karena menganggap istrinya kelelahan, akhirnya Hartini ditinggal Andi di depan Toko Eskimo yang terletak di jalan Pemotongan.

Bertarung Nyawa Sendirian

Saat Hartini disuruh beristirahat di depan Toko Eskimo yang juga merupakan trotoar, hari masih sangat pagi. Sekitar pk 05.00, belum ada warga yang berlalu lalang. Usai meninggalkan istrinya, Andi melanjutkan perjalan untuk menimbang dan menyetorkan berbagai barang hasil memulung. Ia sama sekali tak mahfum bahwa istrinya tengah berada di ambang maut.

Satu jam kemudian, Hartini telah merasakan orok di perutnya terus meronta ingin melihat carut marutnya dunia. Ia tergeletak di trotoar dengan darah mulai mengucur, mengalir melalui celana panjang yang tak sempat dibuka. Ada rasa sakit yang amat sangat, meski begitu, beberapa warga yang melihatnya mengabaikannya. Hartini dianggap orang kurang waras.

Menjalani proses persalinan tanpa didampingi siapa pun,  Hartini seperti bertarung dengan maut.  Celakanya, warga yang mulai beraktifitas sama sekali tak menyadari bahwa dirinya lagi bergulat bertaruh nyawa. Bahkan, Muh Zaenu (41) tukang parkir yang biasa mangkal di tempat kejadian perkara menduga Hartini adalah korban kecelakaan lalu lintas. “ Saya melihatnya, tapi tidak berani menolong,” akunya.

Baru setelah paham bahwa Hartini akan melahirkan, Muh Zaenu buru- buru memberitahu warga. Atas inisiatif warga , pihak kepolisian segera dikontak. Namun, nampaknya bayi yang dikandung Hartini sudah tak sabar. Sebab, ketika polisi tiba, orok berkelamin laki- laki itu telah lahir tanpa bantuan siapa pun.

Peristiwa yang menimpa Hartini, ibu berkulit gelap ini, teramat sangat jauh berbeda dengan proses persalinan yang dialami Nagita. Sebab, seperti Nampak di tayangan reality show, Nagita mendapat pelayanan serba bintang. Diabadikan secara utuh oleh mata kamera dan ditangani tim dokter kelas wahid. Mungkin saja Nagita juga merasakan rasa perih mau pun sakit selayaknya perempuan yang melahirkan, namun, keperihan serta kesakitan yang mendera tubuh Hartini sepertinya lebih berlipat ganda.

Yang mengherankan atas proses persalinan dua ibu muda ini, ternyata juga memiliki nilai jual yang berbeda. Persalinan Nagita oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional dianggap memiliki nilai jual, sehingga harus dibuat program reality show yang menurut saya kurang mendidik. Begitu pun perbedaan yang dialami sijabang bayi.

Ketika anak Raffi Ahmad lahir, ribuan ucapan selamat berdatangan tanpa diminta. Sementara, saat anak Andi terlahir, tak ada prosesi apa pun yang menyambutnya. Ya, inilah salah satu ironi di negeri ini. Celakanya, ada ribuan bahkan mungkin ratusan ribu Hartini- Hartini lainnya yang tersebar di Republik Indonesia. Andai Hartini berstatus sebagai istri Raffi Ahmad, tentu lain ceritanya.

Sumber : kompasian | Penulis : Bambang Setyawan

Like Fanpage:

0 comments:

Post a Comment